Showing posts with label CERPEN: MILIS. Show all posts
Showing posts with label CERPEN: MILIS. Show all posts

Tuesday, September 29, 2009

190909

“Aku hanya ingin menghirup nafasmu
karena dadaku terasa sesak”
kata terakhir dari satu mimpi.
Yang sangat ingin kukatakan
di penghujung waktuku.....


190909.... Akhirnya hanya akan tersimpan dalam hati dan mimpiku. Dalam keramaian terasa sepi menyelimutiku. Aku sempat melihat ruangan dan tempat saat kami pernah duduk disana, pernah jalan berdua, pernah makan dan minum disana. Rasanya sesak banget. Nafasku sulit keluar, karena ingin menahan tangis (sungguh sangat sulit).

190909.... Pesawatku sudah mulai take off, tapi aku masih menunggu seseorang yang kutahu tak mungkin datang hari ini. Hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun saja, rasanya tak mungkin. Tak mungkin (bisikku lagi...) karena suara dan pesanku tak bisa lagi diterima olehnya. Aku tak mungin bisa melihat wajahnya hari ini.

190909.... Aku tetap mengingat tanggal ulang tahunmu. Aku tetap bertahan dengan tegarku yang mulai rapuh tanpa kehadiranmu. Aku sadar, aku tetap akan sama seperti dulu. Walaupun waktu memaksaku untuk berubah. Walaupun kamu memintaku untuk berjalan dan beranjak melupakan semuanya. Aku akan tetap sama dalam cintaku. Aku akan tetap sama dalam mimpiku. Aku akan tetap sama dalam diamku.

190909.... Memang, ada hati yang patah dariku. Sayangnya, kamu tidak bisa merasakannya. Sangat ingin kukatakan: Kamu yang terpenting di dalam hidupku. Entah apa aku juga terpenting bagimu. Ketiadaanmu membuat tiap detik jarum kehidupanku terhenti.

190909.... Aku selalu mengingat kamu (kadang aku senyum sendiri, lalu sedih...) Kemarahanku karena kepergianmu, tak bisa kamu dengar lagi. Kemarahanku karena kamu membuatku menunggu lama sekali, hingga membuatku mencubit dan memukul dadamu, tak mungkin lagi. Kemarahanku karena kejahilan kamu, hingga membuat kamu menerima hukuman dariku. Menonton film bersama sampai kelaparan. Berjalan jauh sekali, sambil bicara dan bergenggaman tangan. Ngambek dan diam-diaman, lalu baikan lagi... (kita kayak anak kecil lagi ngambek ya?).

Penghujung bulan September ini, aku ingin menuliskan kata yang belum sempat terucap: Selamat Ulang Tahun (bukan karena aku melupakanmu).

Sudah cukup lama kita berdiam dalam kebisuan yang semu, pasif dan samar. Berpijak pada keadaan temaram, tanpa hitam atau putih yang jelas. Sang kehidupan sungguh membuat cerita ini terasa panjang tak berujung. Mungkin benar kata orang, antara cinta dan benci itu berbeda tipis...

PS: Happy Bithday Bumi, keabadianmu telah tertulis di hatiku.

Friday, August 28, 2009

PESAN TERAKHIR

Satu per satu, walau sulit, semuanya harus dilewati. Waktu terus berjalan dan tidak perduli apa yang saya, kamu dan mereka alami.

Hari yang penuh dinamika. Saya terbawa sedih, karena teman kantor sekaligus tempat curhat mengalami musibah. Menangis. Semua terjadi karena masalah yang tidak cukup pantas dimuntahkan oleh seorang dermawan, kaya, pintar dan orang nomor satu!!! Saya hanya bisa menghibur dan memberi semangat untuknya. Dan pada akhirnya, wajah kami semua mulai muram.... (saat ini secara melambat, kami mulai belajar tersenyum).

Sedangkan saya sendiri??? Di minggu yang sama, harus melewati jembatan yang tak ingin saya seberangi. Waktu yang mulai beranjak tak perduli, rasa yang lambat laun terpaksa dihukum mati...

Tiga hari dua malam, saya terus menangis. Tak terhitung berapa kali saya diam, berapa kali saya menangis......... tapi saat itu, saya tidak pernah tersenyum!!! Entah ada gunanya atau tidak, saya tak perduli. Saya lebih suka menangis sendiri, daripada bicara dan merengek-rengek. Saya pikir cukup untuk melampiaskan amarah dan kesakitan.

Kegagalan yang tak pernah saya tau, menghampiriku layaknya petir yang membakar setengah bagian harapanku. Kuharap, masih ada yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya. Saya akan mencoba sadar dan bangun, ketika kutahu tak ada rencana itu lagi. Walaupun sebuah penghargaan tak saya temukan disana, walaupun kegagalan itu hanya terbaca dengan pesan tanpa terlihat................ saya akan melihat dengan hati saya sendiri.

Saya akan melihat dengan hati saya sendiri, walaupun semua akan pergi dan menghilang..... (seperti yang tertulis di pesan terakhir).

Tuesday, July 28, 2009

DYA DYAN

Hari ini… pagi yang cerah, tetapi tak secerah hatinya. Merencanakan perjalanan ke salah satu gereja tua. Manis. Dengan t-shirt kuning plus jelana jeans biru. Rambut panjang yang tergerai, membuat hari itu dia tersenyum melihat cermin. Sendirian, dia tapaki perjalanan pagi menjelang siang dengan harapan dan suara hati yang tak bisa dipungkiri. Disembunyikan dan dibungkus rapi dalam kantung hati yang tak kan ada yang bisa melihat bahkan menyentuh. Selalu dia bawa untuk menghiburnya. Melupakannya. Membiasakannya. Menahannya!!!

Satu per satu langkahnya usai. Satu per satu kesedihan itu terbaca. Setapak demi setapak. Langkah demi langkah. Hanya dia yang tahu. Hanya dia yang rasa. Dengan senyum yang masih akan ada untuk membuat orang lain bahagia. Dibalik senyum yang terlukis di wajah luarnya, hal yang sama telah terlukis senyum luka di dalam wajah hatinya.

Tiba di gereja tua, dia segera melaksanakan tugasnya. Lalu terbujuk menikmati dan menghabiskan waktu untuk duduk, diam dan bersujud di dalam gereja. Burung gereja terbang dan hinggap di sudut pilar dan patung. Bersahutan dan bernyanyi. Lilin altar yang kuning keemasan. Bunga altar putih yang mekar dan segar. Patung-patung yang berdiri tegak, ada yang tersenyum, diam, merenung, membaca dan menyapa. Udara pagi menyentuh lembut dan dingin kulitnya. Hening dan Geming.

Sketsa wajah Dyan mulai tergurat di wajah manisnya. Sketsa cerita lalu mulai mengisi pikirannya. Mencoba menguraikan awal cerita yang menjadi sebagian sejarah. Pertemuan yang biasa dan tidak terencana….. entah ini awal kesedihan, awal kesalahan, atau awal kebahagiaan mereka??? Hanya mereka yang tahu. Seperti kisah abadi: Romeo dan Juliet. Adam dan Hawa. Galih dan Ratna.

Menyandarkan kepala di pundak bangku, membuatnya sedikit lega. Kenapa ada yang sakit? Bukankah cinta Dyan tulus?? Bukankah sebagian perjalanan sulit telah mereka lakoni berdua?? Atau ini semua hanya permainan?? Atau hanya kerikil kecil yang menggoyahkan keyakinan yang telah dijalani sejak 8 tahun atau selama hidupnya?? Perbedaan keyakinan? Perbedaan status? Perbedaan umur? Perbedaan budaya? Perbedaan pendapat? Atau apa??? Semua alasan atau satu alasan saja bisa menjadi jawaban pemisah!!! Seluruh pihak telah bersiap mengisi amunisi, kekuatan, sampai dengan strategi perlawanan.

Kepala yang semakin tertunduk, mata yang mulai membentuk telaga putih dan berkaca-kaca. Lalu air bening mengaliri wajah putihnya. Dia berserah, tidak melawan dan mengintimidasi. Karena Dyan ada ditengah kami. Kalau kedua pihak melawan maka Dyan akan semakin terluka parah. Luka yang sempurna. “Aku takut melukai Dyan terlalu dalam”, ucapnya.

Pasrah. Diam. Membiarkan mereka mengambil kedua tanganku agar aku tak bisa memeluknya. Membiarkan mereka mematahkan kakiku agar aku tak bisa berlari mengejarnya. Membiarkan mereka mengambil pita suaraku agar aku tak bisa memanggil namanya. Membiarkan mereka merusak wajahku agar Dyan tak kan pernah melihat dan mengenalku. Tapi, mereka tak kan bisa menghapus kenanganku, walau memaksa mencuci otakku. Tak kan ada yang bisa mencuri apapun dari dalam hatinya. Tak kan ada yang bisa memadamkan cinta kami!!!
Walau dia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ketika keheningan tercipta dalam sebuah rekoleksi pribadi, diam menjadi senjata pembunuh yang perlahan tapi pasti. Mungkin sebuah kesalahan dan dosa terbesar yang harus dihindari adalah hubungan kasih mereka!!! “AKU” bisik wanita itu sambil menangis. Sehingga tiada pesan dan suara Dyan adalah hal yang sengaja dan tidak disengaja harus bisa diterima. Membeku dalam dinginnya waktu. Menerima dalam ketidakberdayaan. Merindu dalam ketidakmungkinan. Meski telah terucap hanya satu yang ada dihati selamanya….

Mungkin dalam rekoleksi pribadi, dia telah menemukan jawaban. Tak mengapa, karena semua orang akan bahagia. Tak mengapa, karena semua orang akan menyambutnya dengan senyuman dan kebanggaan. Tak mengapa, karena semua orang akan melupakan masa lalunya, juga kesalahannya. Tak mengapa, karena pengorbanan ini untuk semua orang termasuk dia. Terutama agar Dyan mampu bertahan...

Dyan.......... mampu belajar menghargai perasaan orang lain. Arti cinta dan pengorbanan. Menyelesaikan persoalan dengan bijaksana tanpa marah dan diam. Dewasa. Tak bersembunyi di balik ketidaktahuan dan keingintahuannya karena dia sudah bisa menunjukkan jati diri dan kemauannya. Berbicara dan bertindak sesuai dengan keadaan dan kondisi. Melihat dan melakukan sesuatu dengan memperhitungkan hati nuraninya. Jujur dengan dirinya sendiri dan pilihannya.

Keluar dari gereja tua dengan lunglai.... walau rasanya kosong, tetap terus berjalan dan tegar dalam diam…

RaDi

Monday, May 4, 2009

CURHAT ANANDA

Surat untuk mama-papa,
aku tau ku tak kan bisa
menjadi sperti yang engkau minta
namun selama nafas berhembus
aku kan mencoba
menjadi sperti yang kau minta…..
namun selama aku bernyawa
aku kan mencoba
menjadi sperti yang kau minta….

Ananda mencoba untuk tegar, walau terkadang dan bahkan seringkali jatuh dan tak sanggup berdiri tegak. Rasa bersalah dan berdosa terus merajai dan mengikuti setiap langkah kaki ini. Ingin sekali ananda ada diantara kalian, mengeluh dan menangis sejenak. Hanya ingin mencoba untuk mengumpulkan kekuatan lagi. Mencoba bangkit dari masalah dan beban serta rasa bersalah. Ananda sesak, hampir tak bisa bernafas, ketika melihat ke belakang, ketika menyadari kesalahan, dan belum bisa membuat kalian bahagia serta lega.

Ada semangat dan harapan ketika teman-teman memberikan senyuman di hati ananda, dengan kelucuan dan keramaian mereka, ketika kalian tidak ada di samping ananda, membuat ananda bisa tegar dan kuat kembali. Tetapi, ketika ananda tersadar, ternyata kalian jauh dan tidak ada di samping ananda, saat lemah, sakit, kecewa, bahkan gembira, sejenak ananda terdiam dan menangis.

Seringkali air mata dan tawa ini terlewat begitu saja, tanpa orang-orang yang ananda kasihi. Ananda sendirian, takut dan cemas. Sebagai seorang kakak, sebagai seorang wanita karir dan aktivis, timbul pertanyaan dalam hati, apakah ananda terlalu lemah? Menertawai dan bersikap dingin pada kerinduan ananda terhadap kalian, orang yang ananda cintai, adik-adik yang lucu dan nakal, sungguh membuat ananda semakin rindu. Entah ini wajar atau tidak? Pantas atau tidak?

Mama-papa, maafkan ananda. Selalu berusaha menyenangkan hati kalian, sungguh membuat ananda tersiksa. Ananda sungguh tak kuat lagi, rasanya ananda hanya bisa membuat kalian sedih dan kuatir. Ananda mencoba mengikuti, tetapi, tanpa sadar, ananda tak kuat menahan air mata yang sering kali ananda kutuk dan benci agar kalian tidak pernah tahu. Ananda selalu dan terus mencoba memahami ingin kalian. Walau ananda tahu, rasa ini sulit sekali untuk diingkari.

Kemarin, ketika ananda menonton teater, di dalam keramaian itu, di gelapnya gedung yang luas, di tengah tugas dan tawa teman-teman, ananda masih sempat menangis. Tiba-tiba saja ananda tersentuh, ketika seorang anak kecil menangis di pelukan seorang wanita. Mungkin ananda teringat dengan mama-papa yang sedang bingung dan bertanya-tanya “mengapa ananda diam?”

Mama-papa, selama ini ananda tidak pernah mengeluh dan menangis di hadapan kalian. Selama ini, ananda selalu jadi kakak yang kuat dan berusaha menjadi yang terbaik untuk semuanya, bahkan seringkali menjadi kakak yang pertama, walaupun harusnya itu bukan ada di pundak ananda karena ada kakak. Tetapi, kini… saat ini pun, ketika ananda dewasa, untuk kesekian kalinya ananda harus bersikap tegar dan tersenyum manis, walaupun ananda tak ingin melakukan itu.

Dewa ku pun, tak ada saat ananda butuh bersandar. Keinginan dia, membuat ananda sebagai wonder woman dan harus kuat, sekali lagi menambah beban di pundak ananda yang lemah ini. Ananda ga kuat lagi mama-papa….. Seringkali ananda tak kuat menerima beban yang dia buat untuk menutupi hubungan kami. Ananda harus menerima dan sendirian ketika berjalan di tengah-tengah keramaian juga kegelapan. Ini sungguh tak adil mama-papa…… Ananda terpaku pada kenyataan yang membuat ananda tak mampu berdiri tegak untuk menjawab masalah satu per satu. Ananda ingin sekali menangis dan berlutut pada kalian, karena ananda sudah salah. Tapi……. ananda malu, ananda takut, takut mama-papa semakin sedih dan kecewa. Ananda takut, mama-papa tau, ananda juga sakit. Takut, kalian tau ternyata ananda tidak sekuat dan seperiang anak perempuan kecil kalian yang dulu.

Ananda ingin sekali katakan pada kalian: saat ini ananda lemah. Tapi, sepertinya ananda tak bisa memberitahukan kalian semua hal itu. Mungkin, tidak sekarang, atau entahlah kapan. Ananda ingin sekali ada yang benar-benar melihat dan mendengar suara hati ananda, tetapi sepertinya kertas putih dan notebook putih ini yang bisa menerima semua isi hati ananda. Ada saat ananda sedih dan menangis, pun gembira. Kertas putih yang selalu dan siap mendengar setiap cerita dalam hidup ananda… Walaupun dia hanya diam dan tak mampu bicara, hanya bisa mendengar dan menerima curahan hati ananda. Cukup membuat ananda lega dan tertidur pulas di malam hari, setelah menumpahkan semua isi hati ananda hari itu juga.

Ananda ingin bangun dan bernyanyi bersama kalian. Ananda ingin mama-papa ada.... untuk membuat ananda bisa mengambil keputusan yang terbaik dan tegas. Ananda ingin bersama kalian. Ananda sungguh sangat merindukan pelukan kalian yang hangat, tawa kalian yang renyah, kemarahan kalian yang kadang membuat ananda harus menerima hukuman. Ananda ingin kalian bertanya lagi ‘mengapa?’ ‘ada apa?’

Apa ini yang namanya kalah ya? Ananda tak tau. Hanya ananda kecewa pada diri ananda sendiri…. Dan ananda butuh kalian. Bukan untuk menasehati, bukan untuk meminta ananda kuat dan menjadi wonder woman. Tetapi, ananda hanya butuh pelukan dan sandaran untuk melepaskan beban ini sejenak. Hanya untuk mengumpulkan kekuatan yang terhabiskan di jalan-jalan yang lalu dan sekarang, juga untuk berserah kepadaNYA.

Segenap kasih ini hanya untuk kalian. Kini, biarkan ananda diam dan beristirahat. Biarkan ananda menerima cinta dan pelukan kasih kalian. Biarkan ananda percaya lagi, harapan itu masih ada. Biasanya mama-papa tau, kapan ananda diam dan menangis seorang diri, lalu tanpa kalian tahu, ananda sudah bisa baik lagi. Menjadi gadis kecil kalian yang manis dan periang. Yang tak pernah mengingat-ingat masalah lagi. Ananda tetap seperti itu kog.

Masih seperti anak perempuan kecil kalian yang sering dibilang mirip ‘papa’, ngambek di kamar kalau lagi dimarahin, yang dengerin curhat mama tentang mantan pacar mama dulu termasuk papa, hehehehe…, yang suka sama anak-anak kecil di dekat rumah dan main sama mereka dan adik-adik di rumah, kadang kog jadi anak kecil ya??? Oiya, ananda masih sering pake selimut kalau tidur, masih suka meluk siapa aja yang ada di samping ananda kalau tidur (dulu waktu ananda sakit, mama terus peluk ananda sampai papa cemburu hehehe…), trus kalau sakit pasti suka ngigau. Ananda juga masih suka nyanyi dan menulis, masih suka dan kagum sama papa (pengen punya suami kayak papa, yang ini buat mama bangga… cieeee). Makanya, kalau ananda punya pacar, pasti ada sedikit mirip-mirip papa (maunya sih miripnya banyak…).

Hanya saat ini, ananda sedang rapuh dan ingin sendiri. Ananda ingin terima semuanya sendirian dan tanpa beban, membiarkannya mengalir seperti air. Dan ananda tau, air yang pasang itu, pasti akan menemukan muara yang tenang dan damai. Ananda sedang menunggu hari itu tiba, saat itu tiba, dan semua indah pada waktunya.

Semoga ananda selalu dan selamanya ada untuk mencintai dan dicintai oleh kalian. Semoga ananda selalu dan selamanya jadi anak, adik, kakak, istri, ibu, teman dan sahabat yang baik. Semoga ananda ditemukan dengan sso yang selalu dan selamanya mencintai dan dicintai ananda dengan tulus. Yang memahami maksud amarah, membaca dan mengerti isi hati ananda…… pun sebaliknya.

Ananda baik-baik saja. Ananda pasti datang dan bisa menyelesaikan semuanya dengan tenang.
Dari: Ananda

Monday, April 27, 2009

PERSEMBAHAN DEW

Setelah 2 minggu tak bertemu, tak bicara, tak menahu, akhirnya Dew datang dengan diam-diam. Tanpa ada yang tahu, dia datang, dan kemudian pergi... Berdiri diam di depan rumah Pondok Anggun itu. Menanti Diy keluar, membukakan pintu. Padahal di malam yang sama, baru saja Diy membuka kembali foto-foto mereka berdua. Diy dan Dew. Lama sekali. Sampai akhirnya Diy mengantuk dan tertidur pulas. Tak tahu ada sms masuk. Ternyata, Dew sudah ada di dekat Diy????

Dew datang. Membawa lagi harapan dan senyum mereka. Dew datang. Mempersembahkan maaf dan kesadaran hanya untuk Diy. Suatu hal, yang sempat membuat Diy putus asa dan bertanya, “apakah Dew bisa menyadari kesalahannya??” Kini tak perlu lagi, kami ingat-ingat, Diy ingat-ingat, atau pun Dew sesali. Semua sudah lebih baik. Yang terpenting adalah sekarang dan akan datang. Kejadian kemarin itu, cukup menjadi satu pelajaran tambahan lagi untuk persembahan cinta kami.

Dengan bahasa kami, dengan pengertian dan komunikasi kami. Akhirnya semua masalah yang sempat membeku itu melebur, meluber dan mencair. Dingin, sejuk dan damai. Ada senyum dan gelak tawa yang menghiasi hari-hari mereka lagi.

Terbentuk kristal baru lagi. Karena ingin selalu mengkristalkan kisah ini bersamanya....

Waktu yang berjalan, terasa begitu cepat. Tersadar.........., ada ego yang datang ketika tiba-tiba waktu harus menjemput masing-masing mereka untuk berjalan menapaki hari-hari dengan penuh tanggung jawab. Work. Study. Society.

Love You Dew. (Dew tertidur juga.....)
Don't make me sad again.

Setengah Gelas Air Putih

Saya terkesima membaca blog yang satu ini. Sederhana, lugas dan bebas. Tapi ada arti yang hendak dia sampaikan untuk Bun, pembaca, dan dirinya sendiri.

Tidak ada samudera
Tidak ada lautan
Pun danau atau kolam
Aku hanya butuh setengah gelas air putih
Dan itu kamu....

Beberapa waktu lalu saya sering bilang pada Bun kalau saya merasa kesulitan menulis tentangnya. Menjadikannya inspirasi seperti sebelumnya. Tapi barangkali tidak untuk kali ini. Semoga dia membaca tulisan saya.

Saya sakit. Terdampar di rumah sakit beberapa hari dan akhirnya pulang kerumah. Saya tidak pernah menyangka musibah ini menimpa saya. Alhamdulillah, Tuhan memang jarang memberi saya sakit. Saya patut bersyukur untuk hal ini. Muda, sehat, memilih bahagia. Pun demikian musibah ini saya syukuri sebagai manusia yang menghamba.

Beberapa hari sebelum musibah yang membuat jari kaki saya patah, saya menelpon Bun—kekasih saya. Saya bilang bahwa saya punya rencana untuk pulang pada tanggal 9 April menjelang PEMILU. Namun betapa berat hati ini, saya amat rindu rumah. Saya pun rewel. Dan seperti biasa, kekasih saya itu hanya berujar ‘Sabar, Sayang..’

Sabar. Barangkali itu yang agaknya perlu ditekankan disini. Sabar adalah bahwa semua akan datang pada waktunya. Tidak perlu diburu-buru datangnya. Namun rupanya saya tidak sabar. Dan beberapa hari kemudian saya dijemput musibah itu. Untuk pertama kalinya (dan semoga tidak terulang lagi untuk sesuatu yang merepotkan banyak orang) saya terdampar di rumah sakit. Setelah mendapat perawatan saya diijinkan pulang ke rumah dengan jari kaki terbungkus perban.

Saya pulang. Untuk waktu yang amat lama. Sekitar 4 minggu. Saya bertemu keluarga, saya jadi pasien di rumah sendiri dengan ibu sebagai perawat. Ayah saya bertugas sebagai motivator. Adik saya menyegarkan rumah dengan humornya. Dan tentunya Bun selalu datang ke rumah dengan membawa senyum (juga es krim kesukaan saya).

‘Kamu pulang lebih awal..’ katanya.‘Iya.. Sebelum tanggal 9 April’ sambung saya.Sejak saya sakit, saya tahu betapa berartinya Bun buat saya, sama berartinya dengan keluarga dan sahabat saya. Bun tahu betul saya menderita kebosanan berkepanjangan berada di rumah tanpa kegiatan. Ya, untuk saya yang hampir tidak berhenti bergerak kecuali tidur malam, menjadi pengangguran di rumah bukanlah hal yang menyenangkan. Dan Bun selalu datang dengan membawa beberapa kegiatan ringan. Kami masih bisa makan es krim berdua, dia memotret saya, dan mengedit foto. Semuanya penuh canda tawa. Semuanya menyembuhkan.

Dan saya selalu tidak suka bila jam dinding sudah menunjuk pukul 22.00, karena Bun harus pulang. Betapa egoisnya saya. Ah, Bun.. Dia memang bukan samudera yang maha luas.. Samudera yang kamu kagumi, dan bisa menenggelamkan dirimu, yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Bun hanya setengah gelas air putih yang akan dibutuhkan semua orang, begitu sederhana. Untuk bersamanya, kamu tak perlu tenggelam dan mati muda tak berarti. Kamu hanya akan sedikit merasakan dehidrasi, hehehe.. I love you, Bun..

Pati, 13 April 2009, Kamar tidur, internet, tawa. By. Catastrova

Monday, April 13, 2009

TIGA BELAS

Malam berganti pagi... Matahari yang terbenam, mulai menunjukkan kuasanya dengan gagah. Mengganti malam yang bertahtakan bulan dan bintang. Bangun!! Mulai!! dan Bangkit!! Hari ini, memaksa saya untuk menerima tanggal 13 April 2009. Tanggal yang selalu saya rindukan, impikan, sekaligus saya harapkan menjadi moment terindah dalam sebagian perjalanan hidup saya setiap tahun.

Tak bisa saya pungkiri, saya juga merasakan kesedihan yang teramat sangat, ketika malam menjelang 13 April 2009. Tiga Belas (13), angka yang disebutkan orang lain pada umumnya sebagai angka keramat alias menakutkan. Tapi, bagi saya pribadi, angka 13, bukan angka yang patut dilewatkan bahkan sampai ditakutkan.

Saya merenungkan tahun-tahun yang telah berlalu...........

Sejak kecil, saya selalu membuat angka 13 ini sebagai angka keberuntungan. Bahkan dokter Rontgen RS Elisabeth tempat ibu saya bekerja dulu, juga lahir tanggal 13. Saya sempat merasakan kebaikan dokter Tan (panggilan dokter itu). Masa kecil dulu, figur yang langsung saya lihat dan saya banggakan adalah dokter Tan. Seseorang yang tanggal lahirnya sama dengan saya, orang yang baik dan kebapakan. Hanya karena dia memberikan sebuah permen coklat yang saya sukai, dengan senyumnya yang khas, pakaian putih dan rambutnya yang memutih, akhirnya.......... saya tidak takut lagi kalau datang dan berobat ke RS.

Setiap ulang tahun, ayah, ibu, kakak, adik, mengucapkan selamat ulang tahun. Walaupun sampai saya dewasa, ulang tahun tahun saya tidak pernah dirayakan dengan sebuah pesta ulang tahun, pesta yang mengundang semua teman-teman beserta kue tart dan lilin yang besar, gaun dan sepatu yang cantik.... tapi saya bersyukur, ulang tahun saya masih diingat keluarga dan orang-orang yang saya kasihi.

Terkadang, setiap melihat anak kecil ulang tahun, ada sedikit kerinduan dan hati saya berbisik “waktu kecil, ulang tahun saya tidak pernah dirayakan”. Saya masih ingat... dulu saya pernah menangis minta ulang tahun saya dirayakan, tapi tidak diberikan!!. Saya terus menunggu dengan sedihnya, siapa tahu papa pulang kerja, membawa kado ulang tahun. Menunggu di kursi panjang berwarna kuning, karena pesta ulang tahun tidak ada, mama hanya memasak menu yang berbeda hari itu. Tapi, hati saya tetap saja sedih, karena tidak mendapatkan pesta ulang tahun, teman-teman tidak ada, bahkan saya tidak mendapatkan kado ulang tahun. Dan ternyata........ ketika papa pulang kerja, dia membawa kado ulang tahun, baju plus rok kecil warna merah putih berbunga-bunga. Saya senaaaang sekali. Dan, ternyata.... inilah sejarahnya!! Hanya saya (dari ketujuh anaknya) yang pernah dibelikan kado ulang tahun oleh papa saya. Hanya saya yang pernah dibelikan baju langsung dari tangan papa saya.

Papa saya..... adalah orang yang cool, tegas dan bijaksana. Memang, dibandingkan papa, mama lebih sering bersama dengan anak-anaknya. Karena sewaktu saya kecil, papa sering pulang kerja sekitar jam 20.00 lewat. Tapi, kemarin malam ulang tahun saya, papa-mama telepon, mengucapkan selamat hari ulang tahun. Dan ketika tanggal 13 April 2009, mama, kakak, adik, mengucapkan lagi “Selamat Ulang Tahun”. Dengan harapan-harapan yang mereka inginkan terjadi pada saya, intinya semua untuk kebahagiaan saya.

"Seseorang yang menerima, menghargai, dan mengasihi saya, apa adanya, tulus, dan tanpa syarat", terucap doa permohonan saya di tanggal tiga belas.

Saya tak butuh lagi pesta!!, keramaian!! di hari ulang tahun saya. Tapi, kasih sayang dari orang-orang yang saya cintai. Sebuah kata dan doa yang begitu sempurna dan penuh kasih, membuat saya begitu berharga dan disayangi.

Terima kasih Tuhan untuk semua anugerahMU, lewat keluarga besar saya, kekasih, teman serta sahabat yang hadir dalam kehidupan saya........(ada setitik air mata).

Monday, April 6, 2009

KAU BERBEDA....

Wajahnya kelihatan merah. Aku berusaha tersenyum, sedikit menyapa, dan berharap dia bisa bicara. Tapi dia hanya diam... berusaha menyibukkan diri dengan barang-barang yang hendak dipindahkan. Aku seakan-akan tidak ada di depannya. Seperti patung, atau orang lain kah? Sakit banget!!! Aku merasakan badannya masih sakit, dia demam dan keringatan. Dia sakit, tapi masih datang membantuku pindah rumah. Barang-barangku dibungkus dengan rapi dan diangkat ke taksi yang juga dipanggil oleh dia.

Dia sibuk dengan barang-barang itu. Barang-barangku yang berat dan sedikit berdebu. Tapi... dia begitu menikmatinya. Sedangkan aku? Aku hanya dilihat oleh sudut matanya saja. Sesekali aku melihat dia memperhatikan aku, sesekali aku melihat dia perduli kalau tanganku kesakitan, sesekali aku melihat dia perduli saat aku batuk, saat aku menyapu dan mengepel lantai. Tapi..... dia tidak bicara. Diam. Dingin. Sedingin hatinya yang mungkin sudah membatu dan marah kepadaku.

Aku tak tahu lagi, harus bagaimana membuktikan kepadanya...Semua dugaan, prasangka nya terhadapku semuanya salah. Kepindahan ku ini pun, tak lain untuk kami berdua. Karena aku ingin bersamanya. Aku sendirian dan merasa tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan prasangkanya terhadapku. Aku tak diberi kesempatan bicara. Kalau pun aku bicara, tapi dia tak mau mendengarkanku, kata-kataku lewat begitu saja dan dia tidak perduli sama sekali. Bajunya yang basah karena keringat, berkali kali aku beri dia kaus ganti, tapi dia menolak dan tidak melihat mataku yang memohon... karena kuatir dia bisa masuk angin. Aku semakin tidak mengenalnya, aku seperti orang lain saja di matanya yang sendu dan merah karena sedang sakit....

Hatiku sakit, sakit banget dan hancur. Apalagi saat ini dia sedang sakit, tapi aku tak bisa menyentuh bahkan membantunya. Dia terus membelakangi aku, berusaha menjauh dan tidak membalas kata-kataku. Dia juga tidak bisa hadir saat aku bernyanyi dengan teman-temanku di salah satu gereja. Padahal, selama kami pacaran, belum pernah dia hadir saat hari-hari bahagiaku. Karena kami terlalu sering memikirkan masalah cinta kami yang sungguh rumit dari hubungan normal biasanya.

Aku berusaha diam dan terima. Tapi... entah sampai kapan aku bisa bertahan. Mungkin, dia tidak akan pernah tahu semua ini atau dia tidak akan mau tahu lagi. Aku ingin sekali bersamanya, tapi mengapa semua mempermasalahkan hubungan ini? Orang tua kami, keluarga, teman bahkan semua umat di dunia ini. Tuhan..... andai aku bisa melupakan dia. Andai aku bisa membuat semuanya berubah dan tidak menerima cintanya, aku yakin kami tidak akan sesakit ini...

Pernahkah kau bicara
Tapi tak didengar
Tak dianggap
Sama sekali..

Pernahkah kau tak salah
Tapi disalahkan
Tak diberi kesempatan
Ku hidup dengan siapa
Ku tak tau kau siapa
Kau kekasihku tapi Orang lain bagiku
Kau dengan dirimu saja
Kau dengan duniamu saja
Teruskanlah.. Teruskanlah..
Kau begitu

Kau tak butuh diriku
Aku patung bagimu
Cinta bukan Kebutuhanmu
Kau dengan dirimu saja
Kau dengan duniamu saja
Teruskanlah.. Teruskanlah
Kau begitu

(Agnes Monica)

Thursday, April 2, 2009

SALAH PENGERTIAN...

Sebuah kisah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga. Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat.

Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah mengkhianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama. Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya.

Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari, kita jemput nenek di kampung. Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukkan ke dalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira". Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga."Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan, dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya."

Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes .Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya: dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis.

Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan piring itu bisa membuatmu mati?"Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemoohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri? Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Luci, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata: "Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi". Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh…… suamiku segera mengejarnya keluar rumah.Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek. Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya kamu periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu? Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku.

Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam, aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikkan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku... Sambil menangis aku menjerit dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian. Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika............ dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam.. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi.

Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

"Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar. Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Luci, kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali. Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata: "Maafkan aku, maafkan aku".

Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pemberian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas..Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang.

Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya.

Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya…… aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit seperti saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk.

Aku tidak lagi peduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…… Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku... Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu.

Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai". Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita... Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya".

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum... ....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata............ .

Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini: "Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati". Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.

Pencarianku

Hasil

Powered By Blogger