Monday, May 25, 2009

MASIH ADA

Aku masih ada…
Dengan seluruh kisah dan kenangan
Terbingkai diantara tempatmu dan tempatku
Mungkin sudah menjadi batu nisan
yang kau tinggalkan tanpa nama !!


Aku masih ada…
Menunggu kehadiranmu
yang pergi tanpa pesan dan isyarat
dan tak mampu ku tahan
Karena angin membawa mu dan aku terhempas
Hancur dan terpisah ….

Aku masih ada…
Ditengah keramaian dan keasingan
yang semakin lama membuat ku buta
Akan arti sebuah nama dan waktu
Aku tak bisa melawan…

Aku masih ada…
Menjelma menjadi sebuah ukiran dan tulisan
Menjelma menjadi mimpi dan citamu
Di setiap langkah-langkah dan inginmu…
Saat terakkhirku nanti…
hanya ingin kau tahu “Betapa aku mencintaimu ….”

Dan….. masih adakah kau untukku???

Friday, May 22, 2009

VICTORIA DOMINI KE-4

Konser Victoria Domini (VD Choir & Orchestra) bertepatan dengan Ulang Tahun VD yang ke-4 di Gereja St. Theresia Jakarta penuh dengan tragedi. Tragedi apa nih maksudnya? Begini ceritanya...........

Manager VD “Emil Randa”: sehari sebelumnya ternyata masuk UGD. Pemain organ: H minus 7 harus keluar negeri karena tes pendidikan. Nelda yang ngurusin penari anak-anak sekaligus Alto, harus kasak kusuk kesana-sini karena harus cari kostum, buat undangan, dan persembahan. Sedangkan saya??? Ketika Gladi Bersih ga bisa datang, karena sakit perut (saya pikir ini hari pertama Datang Tamu), tapi ternyata tidak?? Seharusnya, saya yang harus menyiapkan partitur koor. Pemain Orkestra senior, banyak yang mengundurkan diri. Udah gitu, para penyanyi yang latihannya pasang surut (termasuk saya), karena urusan pribadi, pekerjaan, kuliah, dsb.

Nelda sampai ga bisa tidur ngerjain design undangan, sampai kelengkapan misa. Emil yang udah repot, masih aja mau direpotin oleh saya, karena harus antar-jemput temannya ini. Berhubung jarak rumah saya dan Emil berdekatan, yah jadinya bela-belain antar-jemput saya (padahal kalau Emil bisa bicara, gondok kali ya?? hehehehe..). Coba kalau saya bukan temannya, mungkin ga mau repot-repot kali ya??? Aduh, jadi ga enak nih... ngerepotin Emil. Apalagi, ketika tuh anak sakit, saya sama sekali ga tau/ alias ga diberitahu. Emil masuk UGD, hanya mengeluh ke Nelda. TANX BERAT Emil, udah jagain saya.

Esoknya ketemu Nelda, saya diomelin, karena ga tau si Emil sakit? “Lha??? Emang gw ga dikasihtau Nel”, jawabku heran, apalagi Nelda. Pukul 13.00, saya dan Mirah langsung beli AQUA 3 dus ke Hero Sarinah. Ya ampyuuuun, karena pasukan cowok belum ada yang datang, sedangkan segalanya harus dipersiapkan satu per satu, akhirnya saya, Mirah, dan Emil harus rela menjadi kuli panggul membawa 1 dus AQUA 330 ml karena Emil ga bisa bawa barang berat (baru sakit dan keseleo). Jarak antara Sarinah vs Gereja Theresia emang dekat, tapi??? bebannya berat banget ditambah panas matahari yang menyengat!!! Bayangkan saja, saya dan Mirah harus jadi cewek perkasa, bawa 1 dus AQUA yang beraaaat!!. Alhasil, jalan pake istirahat 2 kali ke Gereja Theresia. Hedwig dan Putri beli Dunkin Donuts dan bawa voucher yang saya kasih, lumayan... karena uang kas kita sangat-sangat menipis.

Tiba di Gereja, kepalaku langsung pusing dan lemas. Asli, saya ga bisa jalan kemana-mana. Istirahat, rebahin kaki en minum, juga Mirah. Nelda datang..... ngobrol bentar, langsung acara makeup deh...

Acara mulai. Biasanya saya pede dekat mikrofone, tapi kali ini saya kurang yakin. Teman-teman lain juga. Lagu pertama, lumayan. Lagu kedua mulai kurang..... Aaarggggghhh, satu, dua, tiga, lagu akhirnya ada yang sempurna ada yang cacat. “Aduh, mudah-mudahan umat tidak merasakan kekurangan kami”, bisik hatiku. Tapi, memang anak-anak VD kompak, jahil, narsis en gaul abis. Jalan terus!!! Pantang Mundur!!! ada saja masalah, mulai salah take, nyanyi kecepatan dan terlambat, mikrofone yang tiba-tiba mati di solis atau di koor, sampai salon/ speaker aktif yang kurang kencang. Hancur....... Hancur..... Hancur daaaaagh. Sampai lagu terakhir saja, masih ada kejadian aneh bin narsis! Karena mikrofone yang tiba-tiba mati di solis Stefanus dan Mirah, ehhhh... mereka naik ke altar trus nyanyi deh disana. Hahahahah, jenius bin pede banget yah?? Tapi ini membuat umat tepuk tangan meriah, malah dikira ini skenario kita or disengaja......hahahaha...

Selesai misa, kita ngumpul di Aula. Makan, minum, foto-foto, sampai dengar sambutan dan Romo, Johannes en Emil. Horeeee, kita dapat 1 juta rupiah, sumbangan dari Gereja Theresia. Tugas berikutnya sudah menyusul: tampil di Ulang Tahun Katedral Jakarta. Setelah sibuk di Aula, saya, Nelda, Philia, Winda en Hedwig yang kelaparan, makan di Pizza Sarinah. Kembali keributan dan kenarsisan dimulai. Kayaknya cuman meja kita yang ributnya setengah mati. Ada saja tema yang diangkat di meja itu. Trus disambung lagi sampai di rumah Nelda. Kita dianterin sama Andreas en Mas Adi (Tanx ya bro).

Saya sampai lupa keberadaan si Emil yang rela nungguin sampe lama. Untung dia sms, kalau ga... tau dehhhh, pulangnya gimana?? Sekali lagi, saya repotin si Emil!! Bela-belain jemput ke rumah Nelda, padahal dia udah nyampe rumah. Yah... sebagai tebusan rasa bersalah, si Nelda nyiapain makanan, buah en jus. Lha??? kenapa bukan saya??? Hehehehehe, secara... Nelda lumayan demen sama si Emil. Yaaa sebagai teman yang baik, saya coba dekatin mereka, kalau jodoh kan, saya turut berjasa dunk... suit suiiiiittttt. Sekarang pulang dulu ah... cape banget. Tiduurrrrr.

Selamat berjuang generasi VD berikutnya!!!! Tugas berikutnya sudah menyusul, Ulang Tahun Katedral Jakarta!!!

Monday, May 18, 2009

Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?]


Keyakinan pada Tuhan yang Esa adalah fondasi mendasar bagi bangsa kita. Saking elementalnya, dicantumkanlah prinsip tersebut sebagai sila pertama dari Pancasila. Buah-buah pengamalan yang ditumbuhkan dari sila tersebut antara lain adalah kerukunan umat beragama, tepa salira, toleransi, serta konsep-konsep cantik lainnya. Dalam percakapan sehari-hari kita dapat ‘membauinya’ pada kalimat-kalimat klasik seperti: “jalannya lain-lain tapi toh tujuannya satu” atau “cuma caranya saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu”, dst. Namun, sama seringnya pula kita menemukan aneka kontradiksi yang menemani konsep-konsep cantik dan kalimat-kalimat bijak tadi.

Baru-baru ini saya diberi kesempatan untuk menonton pra-rilis satu film indie berjudul “Cin[T]a”. Sebuah film dengan premis dan tema yang menarik; bercerita tentang Tuhan, cinta, dan perbedaan. Di film itu kita menemui dilema yang banyak dialami orang-orang: hubungan cinta beda agama. Dilema yang akhirnya berujung pada pilihan: pilih pacar atau Tuhan?

Entah berapa banyak sudah hati manusia yang nelangsa akibat dilema klise itu; saat benang kusut itu mulai teraduk: mencintai pacar… tidak mau berpisah… tidak mau mengkhianati Tuhan… tapi kenapa harus ada cinta… bukannya cinta juga diciptakan Tuhan… tapi agama bilang tidak boleh menomorduakan Tuhan… tapi kan, katanya cara saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu… dan benang itu terus mengusut. Belum lagi Tuhan jarang berdiri sendiri, Ia membawa institusi agama, orang tua, keluarga besar, adat istiadat, bahkan aturan pemerintah Indonesia yang melarang pernikahan beda agama.
Itu baru persoalan asmara. Ketuhanan Yang Maha Esa pun masih harus menempuh berbagai tantangan ketika bersinggungan dengan isu politik, kekuasaan, uang, dan fanatisme. Seringnya, dalam naungan payung konsep mulia tentang keesaan Tuhan, manusia tetap harus memilih untuk mempertahankan perbedaan. Tak jarang sampai berdarah-darah. Kontradiksi yang sempurna digambarkan oleh sebuah dialog dalam film “Cin[T]a”, ketika salah satu tokoh utamanya berkata: “Tuhan memang satu, tapi tetap saja Tuhanku yang paling benar.”

Jika kita benar-benar jujur, hampir semua dari kita sama seperti tokoh film tadi; oke, di mulut kita setuju Tuhan itu satu, tapi nyatanya selalu ada Tuhan yang paling benar. Jadi, sebetulnya, Tuhan mana yang kita bicarakan? Jangan-jangan, selama ini ada dua Tuhan; yang Esa dan Tidak Esa. Jangan-jangan, selama ini kita keseleo lidah, menggunakan terminologi “Tuhan” padahal yang kita maksud adalah “agama”. Atau, jangan-jangan, Tuhan memang tidak Esa. Keesaan hanyalah ilusi yang kita ciptakan sebagai obat penawar dari perbedaan yang terkadang begitu menyakitkan dan merepotkan jika bergesek. Intinya, dari mana kita tahu secara langsung dan absolut bahwa Tuhan itu benar-benar Esa? Kata orang? Kata pemuka agama? Kata kitab? Kata pemerintah?
Tuhan yang malang, pikir saya. Ia begitu terdistorsi dan terasing, meski begitu banyak orang mengaku telah mengenal-Nya, bahkan secara kolektif menggunakan keberadaan-Nya sebagai dasar bernegara. Tidak heran kata “toleransi” begitu populer dalam konsep keagamaan kita, karena dengan kontradiksi yang kita pegang tentang Tuhan, hanya sampai toleransilah kita mampu berjalan. Dan kembali saya ingat perkataan Romo Mangun, bahwa seharusnya kita berlandaskan “apresiasi” beragama, bukan “toleransi”. Toleransi berarti ‘silakan berbeda selama tidak mengganggu saya’. Artinya, toleransi punya batas. Toleransi punya syarat. Dan karena itu jugalah ia cocok dengan lidah kita yang bercabang, yang sepakat dengan keesaan Tuhan tapi siap membacok teman jika berani macam-macam dengan Tuhan-“ku”.
Saya jadi tergelitik untuk bertanya: tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih rileks dan realistis—jika kita menerima kenyataan bahwa Tuhan belum tentu Esa? Mengapa kita harus memaksakan diri dengan keesaan Tuhan jika pengalaman spiritual kita pribadi belum membuktikannya? Untuk apa jadi munafik, jika membedakan Tuhan dan agama saja kita masih tersandung-sandung; membedakan isi dan bungkus saja masih tertukar-tukar? Daripada menjadikannya sebagai dalil tak tergoyahkan, teori yang mati, tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih adil dan sahih—jika keesaan Tuhan dijadikan sebuah pengalaman yang hidup? Biarlah mereka, yang memang sudah lahir-batin-luar-dalam mengalami keesaan Tuhan, yang kemudian berkata bahwa Tuhan itu ternyata satu adanya. Bagi mereka yang belum mengalami, biarlah Tuhan tidak perlu esa. Biarkan saja Tuhan berbeda-beda. Biarlah masih ada Tuhan-“ku” dan Tuhan-“mu”. Termasuk, biarkan juga mereka yang mengalami tidak adanya Tuhan. Bahkan Tuhan tidak perlu dipaksakan ada, bukan?

Seorang guru spiritual terkenal, Osho, berkata: ada perbedaan besar antara percaya dan tahu. Percaya senantiasa dibarengi oleh asumsi dan pengharapan, sementara tahu senantiasa dibarengi oleh pengalaman. Kita tak perlu percaya bahwa matahari bersinar, kita TAHU bahwa ada matahari di langit yang menyinari Bumi terus-menerus. Kita mengalaminya secara langsung. Jika kita berani kritis: seberapa banyak pengalaman langsung kita tentang Tuhan hingga kita berani mengatakan bahwa Ia cuma SATU? Bahwa Ia sama dan seragam bagi semua orang, layaknya matahari bagi Bumi? Percayakah kita bahwa Tuhan itu esa atau tahukah kita?

Tahun 1999, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri untuk mempertanyakan ulang semua yang saya percayai tentang Tuhan, termasuk sejauh mana saya telah menyalahgunakan konsep iman selama ini. Karena, tanpa mengecilkan arti kata “iman” yang didefinisikan sebagai 'percaya sebelum melihat', mudah sekali kita berlindung di balik keimanan untuk mengklaim berbagai hal yang tak kita alami langsung. Hal-hal yang sebenarnya cuma asumsi berkarat dan berkerak tapi kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Dan baru saat itulah, saat saya berani melonggarkan cengkeraman saya atas konsep kebenaran, untuk pertama kalinya pula secara tulus saya melihat perbedaan dan keberagaman sebagai sebuah perayaan.

Beranikah kita meninjau iman kita, asumsi kita, kepercayaan kita, keyakinan kita—dan menerimanya sebagai sebuah bentuk keterbatasan dan ‘kemalasan’ kita untuk mengenal-Nya langsung. Sudah berapa lamakah kita berpangku tangan dan membiarkan orang lain atau sebuah institusi merumuskan kebenaran dan Tuhan bagi kita? Mereka yang juga belum tentu mengalaminya langsung, melainkan mewarisi pengetahuan secara turun-temurun?

Pengetahuan adalah sesuatu yang mati, kata Osho lagi. Hanya pengalamanlah yang hidup. Dan saya teringat pertemuan saya dengan seorang bhikku, bernama Bhante Wongsin, di Lembang tahun 2005. Pada akhir pembicaraan kami, beliau berkata: “Jangan percaya semua omongan saya. Anda harus membuktikannya sendiri.” Saya tersentak waktu itu, dan kalimat beliau terus membekas hingga kini. Jangan percaya. Buktikan sendiri.

Beranikah kita untuk mencantumkan tanda tanya di ujung semua yang kita yakini dan percayai? Dan mencantumkan tanda titik hanya jika kita telah mengalaminya langsung, membuktikannya sendiri; saat perjalanan kita dari mempercayai akhirnya tiba di mengetahui.

KARENA CINTA ADALAH RASA

Pagi yang berat, ketika saya bangun dengan badan dan hati yang kurang bersemangat mungkin karena hari Senin atau kelelahan yah??? Ketika TV dinyalakan, didepan saya langsung terpampang tulisan “Di dalam hidup yang tidak kekal ini, tidak ada yang sempurna. Yang sempurna hanyalah CINTA”.

Ternyata, mengingatkan sejarah artis Sophan Sofyan yang meninggal setahun lalu. Kesetiaannya kepada pasangan, patut diacungin jempol. Di dunia keartisan dan hiruk pikuk metropolitan yang bertabur godaan dan nafsu, tetapi pria itu menjadi pria yang tangguh sebagai seorang suami dan ayah.

Saya sendiri, mengagumi pria ini. Sejak kecil. Wajahnya yang tegas, tampan dengan istri yang cantik (Widyawati). Oh iya, saya juga mengagumi pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Tidak ada yang harus selalu super. Tidak ada ego dan keras hati. Mungkin itu yang membuat mereka bisa selalu bersama. Ari Sihasale (besar dan tumbuh di Papua) & Nia Zulkarnaen (besar dan tumbuh di Jakarta, janda pula)... tetapi semuanya begitu indah. Bahkan mereka berdua semakin maju setelah bekerja sama membentuk Rumah Produksi 'ALENIA' (gabungan dari nama Ale sebutan Ari Sihasale dan Nia) dan film teranyar pertama “DENIAS”.

Tidak ada kamu dan aku! Tidak ada kalah dan menang! Tidak ada ragu. Hanya saling menyempurnakan, saling cinta dan kasih. Karena tidak ada yang sempurna, tak ada yang super... Sedangkan Superman, Spiderman pun ..... masih punya perasaan, dan membutuhkan cinta. That's real. "KARENA CINTA ADALAH RASA"

Pernahkah kau pikirkan aku
Pernahkah kau anggapku penting
Pernahkah kau tanyakan aku
Yang ku mau yang ku rasa yang ku inginkan

Kau mencariku aku ada
Kau ingin cinta ku berikan
Ku lakukan semua mau mu
Penuhi permintaanmu terus dan terus

Aku bukan wanita super
Aku ingin juga kau sayang
Aku ingin juga cinta mu lebih dan lebih

Aku bukan wanita super
Selalu saat kau butuh
Terus sempurna di depanmu terus dan terus
Jangankan aku takkan ada yang bisa

Pernahkah kau mencintaiku
Pernahkah kau menerima
Kelemahan yang aku punya
Karna slama ini untukmu ku begitu
(Nafa Urbach)

Friday, May 15, 2009

UANGMU............ UANGKU. UANGKU..... UANGKU.

Perkawinan adalah persatuan dua manusia yang berbeda, karena tumbuh dari latar belakang keluarga dan lingkungan yang berbeda. Mereka sedang tidak mencari jati diri lagi. Hanya perlu saling belajar lebih dewasa mencari jalan keluar untuk keinginan berdua........ selamanya.

Reality Show “Masihkah Kau Mencintaiku” di RCTI pkl. 22.15 WIB ini mengambil tema “Uangmu..... Uangku. Uangku.............. Uangku. Menarik sekali untuk disheringkan dalam blog saya.

Didampingi psikolog Ibu Wina dan Ibu Rea, serta presenter Helmi Yahya dan Dian Nitami. Dua keluarga dari sepasang suami istri Hendro & Dewi, selama 8 tahun menikah selalu ribut dan akan pecah. “Semua karena konflik ketidakpercayaan karena kurang transparan dalam keuangan” kata Hendro. “Tetapi saya merasa seperti pembantu, apa-apa yang mau dibeli harus dilaporkan. Beli cabe, garam, terasi, masak harus dicatat??!!!!”, bela Dewi.

Dewi berasal dari keluarga kaya. Ayahnya pengusaha sukses, tetapi sejak ayahnya meninggal 2 tahun yang lalu, perusahaannya mulai bangkrut dan tutup. Dewi kasihan melihat mamanya yang sepertinya tidak bisa hidup susah.

Masalahnya sudah diketahui, yaitu “UANG”. Hendro memberikan uang sebesar 25juta / bulan (waw... ini besar banget, kalau uang sebesar itu dikasih ke saya, saya sudah beli ini itu, bahkan bersenang-senang dengan keluarga kayaknya masih bisa nabung deh... hehehehe). Selama 2 tahun terakhir, percekcokan terjadi, uang selalu kurang, padahal Hendro melihat tidak ada tambahan di dalam rumah. Dewi juga tidak nabung. Hendro curiga istrinya selingkuh/ menyeleweng. Dituduh demikian, Dewi berang, marah dan menangis....

Akhirnya, Dewi mengaku.. selama ayahnya meninggal semenjak 2 tahun yang lalu, Dewi membantu maminya dalam segi keuangan. Tapi Dewi takut dan malu memberitahukan kepada Hendro. Ketika Helmi menanyakan kejujuran Hendro “Apakah ikhlas, kalau Dewi membantu keluarganya dan menggunakan uang itu untuk perawatan tubuh/ kepentingan pribadi??” “Saya ikhlas, bila Dewi jujur untuk membantu keluarga. Tapi, kalau selama ini perawatan tubuh, kog istri saya biasa-biasa saja, dari dulu sampai sekarang. Ga ada perubahan! Kalau perawatan, ada perubahan dong??!!” jawab Hendro. hahahahaha.... busyet, semua penonton menertawai Hendro, sedangkan Dewi berang... marah dan tersinggung, merasa diejek. “Saya memang begini saja dari dulu mas, tapi saya berusaha menyenangkan mas. Berusaha lebih baik mas. Anak saya sudah 2, apa saya udah ga cantik lagi?? Kamu tega banget!!!!!” teriak Dewi.

Apa karena itu kepolosan Hendro atau karena emosi sesaat atau apalah, suami selayaknya menghormati dan menghargai perasaan istri. Setiap kata-kata yang keluar, harus dipikir dulu, alias difilter, jangan sampai menyinggung perasaan pasangan” ucap Ibu Rea. Akhirnya Hendro minta maaf karena sudah menuduh Dewi selingkuh, juga menyinggung perasaan Dewi. Dewi juga minta maaf selama ini tidak jujur kalau uang itu dipakai untuk membantu keluarganya. Semua jelas. Akar permasalahan dan solusinya sudah ketahuan.

Pertanyaan terakhir: “Hendro, apakah kamu masih mencintai istri Anda dan berusaha kembali memperbaiki hubungan ini” tanya Helmi. Hendro jawab “IYA, saya masih mencintai istri saya” Mereka saling berpelukan...

Hikmah yang terpetik dari kisah ini: perlu kejujuran dan komunikasi dua arah untuk menyelesaikan masalah dalam keluarga. Saling menghormati dan menghargai pasangan, ketika pasangan melakukan sesuatu. Mungkin bisa salah, mungkin juga benar... tetapi semuanya bisa dikomunikasikan dengan baik. Manajemen Keuangan perlu untuk dibahas pada pasangan ketika akan menikah, sehingga saat menikah, masalah keuangan ini tidak menjadi bumerang dalam kehidupan bersama.

Monday, May 4, 2009

CURHAT ANANDA

Surat untuk mama-papa,
aku tau ku tak kan bisa
menjadi sperti yang engkau minta
namun selama nafas berhembus
aku kan mencoba
menjadi sperti yang kau minta…..
namun selama aku bernyawa
aku kan mencoba
menjadi sperti yang kau minta….

Ananda mencoba untuk tegar, walau terkadang dan bahkan seringkali jatuh dan tak sanggup berdiri tegak. Rasa bersalah dan berdosa terus merajai dan mengikuti setiap langkah kaki ini. Ingin sekali ananda ada diantara kalian, mengeluh dan menangis sejenak. Hanya ingin mencoba untuk mengumpulkan kekuatan lagi. Mencoba bangkit dari masalah dan beban serta rasa bersalah. Ananda sesak, hampir tak bisa bernafas, ketika melihat ke belakang, ketika menyadari kesalahan, dan belum bisa membuat kalian bahagia serta lega.

Ada semangat dan harapan ketika teman-teman memberikan senyuman di hati ananda, dengan kelucuan dan keramaian mereka, ketika kalian tidak ada di samping ananda, membuat ananda bisa tegar dan kuat kembali. Tetapi, ketika ananda tersadar, ternyata kalian jauh dan tidak ada di samping ananda, saat lemah, sakit, kecewa, bahkan gembira, sejenak ananda terdiam dan menangis.

Seringkali air mata dan tawa ini terlewat begitu saja, tanpa orang-orang yang ananda kasihi. Ananda sendirian, takut dan cemas. Sebagai seorang kakak, sebagai seorang wanita karir dan aktivis, timbul pertanyaan dalam hati, apakah ananda terlalu lemah? Menertawai dan bersikap dingin pada kerinduan ananda terhadap kalian, orang yang ananda cintai, adik-adik yang lucu dan nakal, sungguh membuat ananda semakin rindu. Entah ini wajar atau tidak? Pantas atau tidak?

Mama-papa, maafkan ananda. Selalu berusaha menyenangkan hati kalian, sungguh membuat ananda tersiksa. Ananda sungguh tak kuat lagi, rasanya ananda hanya bisa membuat kalian sedih dan kuatir. Ananda mencoba mengikuti, tetapi, tanpa sadar, ananda tak kuat menahan air mata yang sering kali ananda kutuk dan benci agar kalian tidak pernah tahu. Ananda selalu dan terus mencoba memahami ingin kalian. Walau ananda tahu, rasa ini sulit sekali untuk diingkari.

Kemarin, ketika ananda menonton teater, di dalam keramaian itu, di gelapnya gedung yang luas, di tengah tugas dan tawa teman-teman, ananda masih sempat menangis. Tiba-tiba saja ananda tersentuh, ketika seorang anak kecil menangis di pelukan seorang wanita. Mungkin ananda teringat dengan mama-papa yang sedang bingung dan bertanya-tanya “mengapa ananda diam?”

Mama-papa, selama ini ananda tidak pernah mengeluh dan menangis di hadapan kalian. Selama ini, ananda selalu jadi kakak yang kuat dan berusaha menjadi yang terbaik untuk semuanya, bahkan seringkali menjadi kakak yang pertama, walaupun harusnya itu bukan ada di pundak ananda karena ada kakak. Tetapi, kini… saat ini pun, ketika ananda dewasa, untuk kesekian kalinya ananda harus bersikap tegar dan tersenyum manis, walaupun ananda tak ingin melakukan itu.

Dewa ku pun, tak ada saat ananda butuh bersandar. Keinginan dia, membuat ananda sebagai wonder woman dan harus kuat, sekali lagi menambah beban di pundak ananda yang lemah ini. Ananda ga kuat lagi mama-papa….. Seringkali ananda tak kuat menerima beban yang dia buat untuk menutupi hubungan kami. Ananda harus menerima dan sendirian ketika berjalan di tengah-tengah keramaian juga kegelapan. Ini sungguh tak adil mama-papa…… Ananda terpaku pada kenyataan yang membuat ananda tak mampu berdiri tegak untuk menjawab masalah satu per satu. Ananda ingin sekali menangis dan berlutut pada kalian, karena ananda sudah salah. Tapi……. ananda malu, ananda takut, takut mama-papa semakin sedih dan kecewa. Ananda takut, mama-papa tau, ananda juga sakit. Takut, kalian tau ternyata ananda tidak sekuat dan seperiang anak perempuan kecil kalian yang dulu.

Ananda ingin sekali katakan pada kalian: saat ini ananda lemah. Tapi, sepertinya ananda tak bisa memberitahukan kalian semua hal itu. Mungkin, tidak sekarang, atau entahlah kapan. Ananda ingin sekali ada yang benar-benar melihat dan mendengar suara hati ananda, tetapi sepertinya kertas putih dan notebook putih ini yang bisa menerima semua isi hati ananda. Ada saat ananda sedih dan menangis, pun gembira. Kertas putih yang selalu dan siap mendengar setiap cerita dalam hidup ananda… Walaupun dia hanya diam dan tak mampu bicara, hanya bisa mendengar dan menerima curahan hati ananda. Cukup membuat ananda lega dan tertidur pulas di malam hari, setelah menumpahkan semua isi hati ananda hari itu juga.

Ananda ingin bangun dan bernyanyi bersama kalian. Ananda ingin mama-papa ada.... untuk membuat ananda bisa mengambil keputusan yang terbaik dan tegas. Ananda ingin bersama kalian. Ananda sungguh sangat merindukan pelukan kalian yang hangat, tawa kalian yang renyah, kemarahan kalian yang kadang membuat ananda harus menerima hukuman. Ananda ingin kalian bertanya lagi ‘mengapa?’ ‘ada apa?’

Apa ini yang namanya kalah ya? Ananda tak tau. Hanya ananda kecewa pada diri ananda sendiri…. Dan ananda butuh kalian. Bukan untuk menasehati, bukan untuk meminta ananda kuat dan menjadi wonder woman. Tetapi, ananda hanya butuh pelukan dan sandaran untuk melepaskan beban ini sejenak. Hanya untuk mengumpulkan kekuatan yang terhabiskan di jalan-jalan yang lalu dan sekarang, juga untuk berserah kepadaNYA.

Segenap kasih ini hanya untuk kalian. Kini, biarkan ananda diam dan beristirahat. Biarkan ananda menerima cinta dan pelukan kasih kalian. Biarkan ananda percaya lagi, harapan itu masih ada. Biasanya mama-papa tau, kapan ananda diam dan menangis seorang diri, lalu tanpa kalian tahu, ananda sudah bisa baik lagi. Menjadi gadis kecil kalian yang manis dan periang. Yang tak pernah mengingat-ingat masalah lagi. Ananda tetap seperti itu kog.

Masih seperti anak perempuan kecil kalian yang sering dibilang mirip ‘papa’, ngambek di kamar kalau lagi dimarahin, yang dengerin curhat mama tentang mantan pacar mama dulu termasuk papa, hehehehe…, yang suka sama anak-anak kecil di dekat rumah dan main sama mereka dan adik-adik di rumah, kadang kog jadi anak kecil ya??? Oiya, ananda masih sering pake selimut kalau tidur, masih suka meluk siapa aja yang ada di samping ananda kalau tidur (dulu waktu ananda sakit, mama terus peluk ananda sampai papa cemburu hehehe…), trus kalau sakit pasti suka ngigau. Ananda juga masih suka nyanyi dan menulis, masih suka dan kagum sama papa (pengen punya suami kayak papa, yang ini buat mama bangga… cieeee). Makanya, kalau ananda punya pacar, pasti ada sedikit mirip-mirip papa (maunya sih miripnya banyak…).

Hanya saat ini, ananda sedang rapuh dan ingin sendiri. Ananda ingin terima semuanya sendirian dan tanpa beban, membiarkannya mengalir seperti air. Dan ananda tau, air yang pasang itu, pasti akan menemukan muara yang tenang dan damai. Ananda sedang menunggu hari itu tiba, saat itu tiba, dan semua indah pada waktunya.

Semoga ananda selalu dan selamanya ada untuk mencintai dan dicintai oleh kalian. Semoga ananda selalu dan selamanya jadi anak, adik, kakak, istri, ibu, teman dan sahabat yang baik. Semoga ananda ditemukan dengan sso yang selalu dan selamanya mencintai dan dicintai ananda dengan tulus. Yang memahami maksud amarah, membaca dan mengerti isi hati ananda…… pun sebaliknya.

Ananda baik-baik saja. Ananda pasti datang dan bisa menyelesaikan semuanya dengan tenang.
Dari: Ananda

Pencarianku

Hasil

Powered By Blogger