Tuesday, August 25, 2015

Malaikat Juga Tahu


"... Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang." (Rectoverso)

Lelahmu...jadi lelahku juga
Bahagiamu...bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri

Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian, tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji

Ku percaya diri, cintakulah yang sejati
Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau s'lalu bercanda andai wajahku diganti
Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan (Dee)



Kamu pernah menjadi seorang malaikat tak bersayap untukku, dan kupikir biarkanlah sebagai malaikat yang selalu ada di sampingku. Karena aku hanya ingin melihat kebaikan yang ada padamu.

Aku paham, inilah takdir kita berdua. Berbagi takdir bersamamu, aku tau kau pun merasakan hal yang sama. Tak ada yang salah dengan cinta kita, cerita kita adalah sejarah.

Bukannya ingin melihat siapa yang menang atau kalah, siapa yang akhirnya bahagia atau sedih. Biarkan kita jalani tanpa menghakimi, biarkan kita jalani tanpa caci maki, biarkan kita jalani tanpa sakit hati. Aku berharap kamu bisa bahagia dengan pilihanmu, dan aku pun pantas bahagia walau tak bisa bersamamu.

Kalau kau tanya, apakah perasaanku padamu? Apakah aku sakit hati? Apakah aku masih mencintaimu? Setelah setahun ini, semua perasaan itu masih ada, dan kupikir biarkanlah semua menjadi warna abadi, atau mungkin akan memudar seiring waktu, aku pun tak tau.

Walau susah payah membangun rasa percaya lagi pada cinta, aku berusaha untuk mengerti waktu terus berjalan, tak bisa menunggu dan diam. Kau tak perlu lagi kutunggu dan kuingat-ingat. Dari semua mimpi dan nyata yang kutakutkan adalah perpisahan kita. Tapi, itu semua sudah terjadi. Kurasa kau tahu betapa hancurnya aku saat itu…….

Sekarang, ada sosok biasa yang mengisi hari-hariku. Awalnya aku tak yakin, hatiku marah, kesal, ga terima. Bahkan aku kesal karena dia sabar, dan aku sudah menyampaikan dengan kiasan halus menunjukkan aku ga suka, ga mau dan ga terima. Bersama dia, kepalaku pusing, mual, muntah dan tidak selera makan. Hatiku menangis. Saat di mobil bersamanya, aku bilang kalau aku ga suka dia, jangan bicara terlalu banyak karena kepalaku pusing dan mau muntah. Si abang langsung dengan sabar bilang, “adek jangan pusing, aku tidak memaksa.”

Melihat bagaimana bahagianya orang tuaku, kalau sekarang aku didekati seorang pria batak, PNS, mapan, punya jabatan, dewasa, sopan dan berani bertemu orang tuaku. Aku tak punya pilihan, karena semua tipe pria baik ada padanya. Orang tuaku yang sakit dan sudah tua pun bahagia dan langsung menari-nari, katanya ingin sekali bisa melaksanakan pesta pernikahanku. Aku diam……….

Sebulan sosok biasa itu selalu sabar bahkan sepertinya dia tau aku tak suka dikejar-kejar dan selalu ditanya mengenai perasaanku, dia hanya bisa memperhatikanku sebagai seorang yang lebih dewasa. Kami memang jauh, dia di Medan, tetapi dia selalu memberikan sikap yang dewasa dan mengerti kecuekan ku. Dia tak punya cukup banyak kata, tapi dia menunjukkan keseriusannya dengan tindakan yang membuatku mulai menerima dia.

Walau dia lebih tinggi jabatannya, dia selalu ingin lebih baik lagi, tidak sombong dan pamer. Aku suka cowok pintar. Dia tidak suka tebar pesona, tidak banyak ngomong dan obral janji, dia lebih menunjukkan kemampuannya dengan sikap dan hasil. Aku tau ini semua, karena dia satu kantor dengan adikku yang PNS, tetapi mereka beda bagian kerja.

Bahkan, karena saat itu aku tidak terlalu ingin berkenalan dengan dia, teman-teman sekantornya sampai rela menjemputku dan menemani kami makan agar aku tidak malas. Yah, aku berkenalan dengannya saat aku berlibur ke Medan. Bertemu dengannya bukan hal yang direncanakan, tak ada tujuan keluarga untuk mempertemukan, kami bahkan tidak mengenal dia. Adikku yang sekantor dengannya pun tak pernah bicara dan kenal dengannya. Karena dia sibuk dan jarang di kantor, kalau pun di kantor dia sibuk dengan pekerjaannya. Atasannya pun sampai merekemondesikan dia, dan menyampaikan kalau Abang adalah sosok biasa yang punya kebaikan dan kemampuan luar biasa. Semua teman, atasan, saudara, mengatakan dia adalah laki-laki yang baik.

Aku?? Seperti biasa, hanya bisa diam dan tersenyum, tak banyak bicara, malah kepalaku makin pusing. Kupikir si abang tahu, aku tidak suka padanya….

Sebulan…, jarak jauh, dan kami mulai dekat, mulai bisa tertawa. Setelah aku nyaman, ada step lagi yang harus kusiapkan: aku harus siap menikah, siap kembali ke rumahnya di Medan. Tapi sebelum itu, aku juga harus siap menyampaikan semua masa laluku. Yang bisa saja dia tanyakan kapan saja.

Sekarang, aku menjalani hubungan yang serius, bukan hanya untuk pacaran, tetapi untuk menikah dan membahagiakan orang tuaku. Sudah tak saatnya bermain dengan perasaanku, tetapi belajar realistis, kalau hidup terus berjalan tanpa bisa mengerti perasaanku atau harapanku.

Bersama dia, aku mulai bisa tersenyum, aku bahagia. Entahlah dengan semua rencana yang sudah dia siapkan untukku. Tak muluk-muluk, aku juga tak sempurna, jadi tak perlu juga aku menuntutnya sempurna seperti harapanku. Semua kita lihat saja, entah apa yang terjadi ke depannya, dia kah pelabuhan terakhir itu? Aku tak tau, tak berani berspekulasi, tak berani berharap tinggi, hanya berserah dan menjalaninya dengan lebih baik lagi. Kalau Tuhan merestui, mungkin rencana pernikahan itu akan terjadi dalam waktu dekat ini. Atau kalau tidak jadi, itu pun juga yang terbaik. Aku menyiapkan hatiku untuk menerima kedatangannya September ini dan siap-siap mendengar hal serius yang akan dia sampaikan. Hal ini sudah dia sampaikan, agar aku bersiap-siap.

Tuhan... tetaplah bersamaku mengambil keputusan. Tuhan... tetaplah bersamaku menyampaikan dan menjawab semua tentang aku, perasaanku dan harapanku. Tuhan... apapun yang terjadi, aku berserah padaMu dan percaya campur tanganMu.


Tuesday, August 4, 2015

Surat Untuk Tuhan Yesus

Tuhan…maafkan aku bila aku sering menangis, mengeluh dan sering jatuh. Bahkan aku sering bertanya kemanakah Engkau Tuhan? Mengapa rasa sakit, kesedihan dan takut ini ada padaku? Mengakah Engkau tidak menolongku Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi padaku?


Tuhan, aku tahu, aku manusia yang berdosa dan penuh cacat cela. Aku tak sempurna dan tak mungkin sempurna. Setiap aku menangis dan jatuh, nama Mu selalu kusebut. Rasa sesak di hatiku dan sakit yang dalam membuatku hampir tak sanggup bangkit dan berjalan lagi. Aku kehilangan arah, menangis dan diam, diam dan menangis lagi, berulang kali.

Tak jarang aku mengandalkan kekuatanku sendiri, kemampuanku dan kelebihanku. Tak jarang aku keras dengan pendirian dan perasaanku sendiri tanpa melihat karyaMu yang seharusnya kujalani sesuai kehendakMu dengan ikhlas. Itu semua karena yang kupilih membuatku bahagia, aku suka dan tak mau kehilangan, aku takut merasakan sakit, aku takut merasakan kesepian, aku takut kehilangan cinta yang kusukai.

Tetapi, sebesar apapun kekuatanku, tak pernah ada gunanya dan berakhir begitu saja, sia-sia dan rasanya aku semakin rapuh. Aku tak menyadari bahwa semua kekuatan dan kelebihanku berasal dariMu bukan dari kemampuanku sendiri.

Tuhan Yesus, janganlah menyerah melihat kenakalanku. Janganlah menyerah melihat kebodohanku Tuhan, Janganlah menyerah melihat ketakutan dan kelemahanku Tuhan. Jangan tinggalkan aku. Tuhan Yesus, tetaplah ada dan ingatkan aku disaat semua meninggalkan aku. Tuhan Yesus, tetaplah ada dan tolong aku disaat aku merasakan kekosongan dalam hidup ini. Tuhan Yesus, tetaplah ingatkan aku bila aku melakukan kesalahan.

Aku memang tak layak dan penuh dosa, terkadang aku pun malu untuk memohon pertolonganMu. Karena seringkali aku berbuat dosa dan mengecewakan hatiMu. Tuhan Yesus maafkanlah aku, ampunilah aku, kasihanilah aku yang berdosa ini.

Walau aku merasa malu memohon pertolonganmu, walau aku takut untuk berseru dan memanggil namaMu Tuhan, tapi dengan penuh rasa sesal dan takutku, aku mohon jangan tinggalkan aku Tuhan, tolonglah aku Tuhan.


Sekarang, aku berserah. Apapun yang terbaik dariMu, akan kuterima. Walaupun itu tak sesuai dengan keinginan hatiku, aku akan menjalaninya dengan ikhlas. Aku takkan mengandalkan kekuatanku lagi, aku takkan hanya memikirkan perasaanku lagi. Aku akan belajar memikirkan kebahagiaan orang lain, aku akan belajar mengerti jalan-jalan yang Tuhan berikan untukku.

Tuhan…. Engkau tahu rasanya sakit dan aku mungkin jatuh bangun untuk mengikuti jalan yang tak sesuai dengan keinginan hatiku ini. Tapi, aku akan berjalan sampai akhir, aku akan tetap berjalan, karena aku tahu, Engkau selalu ada disampingku, menuntunku sampai akhir waktuku.

Tuhan… aku belajar menurunkan egoku, aku belajar memberikan kebahagiaanku untuk membahagiakan orang tua, saudara dan orang lain. Tuhan… aku belajar untuk pasrah dan berserah padaMu, takkan mengandalkan kekuatanku lagi.

Pelajaran terakhir itu, jatuhku yang terakhir itu, sungguh membuatku hancur dan semuanya tak berguna lagi. Bertahun-tahun aku memperjuangkan keinginan hatiku, mengandalkan kekuatanku, tak memperdulikan keinginan orang tua, dan mempertahankan cintaku.

Cinta yang membuat aku terpesona, cinta juga yang membuatku terpuruk dan jatuh. Selama aku mengenal arti cinta, memang tak pernah aku sedemikian mengasihi seorang anak manusia. Tetapi, dia jugalah yang membuatku mengerti, tak semua yang kurencanakan akan sesuai seperti harapanku. RancanganMu lebih baik dari rancanganku, walau aku tak mengerti sampai dimana perjalanan ini berakhir, sampai kapan aku mengerti makna kehidupan ini.

Kini, aku sudah tak sanggup lagi, aku sudah lelah dalam kesakitan dan penantian yang sia-sia. Engkau tahu Tuhan bagaimana perasaanku dan isi hatiku yang paling dalam. Engkau tahu Tuhan, air mataku yang terlihat dan tak terlihat. Engkau tahu Tuhan semua tentang aku.

Beberapa bulan yang kulewati ini, Engkau memberikan pertolongan lewat berbagai cara. Melihat kebelakang beberapa bulan lalu, aku bersyukur dan tersenyum padaMu Tuhan, Engkau tidak meninggalkan aku. Engkau memberikan pertolonganMu lewat teman-teman yang setia membantuku, lewat kegiatan sosial yang membuatku sibuk, lewat talenta yang membuatku bisa bernyanyi di rumahMu, dan tempat tinggal baru yang lebih baik, lewat bos di kantor yang baik.

Tuhan Yesus…. masih panjang perjalananku, masih banyak tantangan dan cobaan yang harus kulewati. Aku takkan kekurangan, aku takkan takut karena Tuhan selalu menyertaiku. Tuhan Yesus, ajarilah aku menyelami jalan-jalanMu, Tuhan Yesus, ajarilah aku mengerti dan melaksanakan semua yang terbaik yang Engkau rencanakan dalam hidupku.

Pernah aku teringat bacaan Alkitab, Tuhan Yesus bertanya sampai 3x: Apakah engkau mencintaiKu? Apakah engkau mencintaiKu? Apakah engkau mencintaiKu? Tulisan ini sebenarnya membuatku sepertinya Tuhan tidak yakin aku sungguh mencintai Yesus. Tapi sebenarnya Tuhan ingin supaya aku benar-benar yakin kepada cinta Tuhan padaku.

Aku bukan orang yang baik, jauh sekali dari yang namanya orang baik. Tapi aku adalah seseorang yang penuh dosa, sampai merasa tak layak dan tak pantas. Surat panjang dan sederhana ini untuk mengucapkan betapa terima kasihku padaMu Tuhan, terima kasih atas cinta kasihMu padaku, terima kasih karena Tuhan masih mau menerima ku kembali pada jalanMu.

Walau sulit...., aku akan jalani bersamaMu Tuhan. 


Pencarianku

Hasil

Powered By Blogger